Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Oktober 2017

Puisi Taufiq Ismail "Dari Ibu Seorang Demonstran"


Taufiq Ismail - Dari Ibu Seorang Demonstran





Puisi Taufiq Ismail "Dari Ibu Seorang Demonstran" adalah gambaran dari perasaan orang-orang terkasih dari para pejuang, ada Istri, anak, Ibu, Bapak, dan teman-teman yang harus merelakan orang-orang terdekat dan terkasihnya pergi melaksanakan tugas yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan orang.

Tugas itu adalah menyampaikan aspirasi dari sumbatan kepentingan yang menghalangi tercapainya tujuan, Kesejahteraan, Ketentraman dan Keteraturan.

Taufiq Ismail mampu menggambarkannya dengan begitu indah dan menarik. Menyentuh setiap relung sukma dari para pembacanya, membawanya ke suasana dimana hal itu benar-benar terjadi pada diri masing-masing pembaca.

Silahkan teman-teman menikmatinya, Puisi Taufiq Ismail "Dari Ibu Seorang Demonstran".


Dari Ibu Seorang Demonstran

oleh Taufiq Ismail



"Ibu telah merelakan kalian
Untuk berangkat demonstrasi
Karena kalian pergi menyempurnakan
Kemerdekaan negeri ini"

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada
Atau gas airmata
Tapi langsung peluru tajam
Tapi itulah yang dihadapi
Ayah kalian almarhum
Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi
Setelah dahi dan pipi kalian
Ibu ciumi
Mungkin ini pelukan penghabisan
(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Baca Juga : Puisi Taufiq Ismail "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia"


Tapi ingatlah, sekali lagi
Jika logam itu memang memuat nama kalian
(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan
Tapi jangan di saat terakhir
Kau teriakkan kebencian
Atau dendam kesumat
Pada seseorang
Walapun betapa zalimnya
Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah
Di atas bumi kita ini
Sebelum kalian melangkah setiap pagi
Sunyi dari dendam dan kebencian
Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan
Serta rasul kita yang tercinta

pergilah pergi
Iwan, Ida dan Hadi
Pergilah pergi
Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta
Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka
Dan berangkatlah mereka bertiga
Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)


1966
_________________________________________________________


 Nah,... itu tadi Puisi Taufiq Ismail "Dari Ibu Seorang Demonstran", setelah membaca apa yang anda rasakan??? sedih, gembira, terharu atau ada perasaan yang lain???


Itulah keunggulan puisi-puisi karya Taufiq Ismail


Terima Kasih telah berkunjung. Silahkan berikan Tanggapan anda dalam kolom komentar.

Minggu, 08 Oktober 2017

Puisi Taufik Ismail - Mencari Sebuah Masjid


Puisi Taufik Ismail - Mencari Sebuah Masjid

Puisi Taufik Ismail - Mencari Sebuah Masjid, satu lagi karya monumental dari Taufiq Ismail, mengungkap perjalanan ruhani darinya dalam menemukan sebuah makna dari peribadatannya


MENCARI SEBUAH MASJID

Aku diberitahu tentang sebuah masjid
 yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
 fondasinya batu karang dan pualam pilihan
 atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
 dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
 digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
 dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
 dengan warna platina dan keemasan
 berbentuk daun-daunan sangat beraturan
 serta sarang lebah demikian geometriknya
 ranting dan tunas jalin berjalin
 bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
 menyentuh lapisan ozon
 dan menyeru azan tak habis-habisnya
 membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
 kemudian nadanya yang lepas-lepas
 disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
 yang memperindah ratusan juta sajadah
 di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana
 bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
 engkau berjalan sampai waktu asar
 tak bisa kau capai saf pertama
 sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
 bershalatlah di mana saja
 di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
 yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
 dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
 di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
 yang menyimpan cahaya matahari
 kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
 ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
 di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
 terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
 tempat orang-orang bersila bersama
 dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka
 dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
 dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
 dalam simpul persaudaraan yang sejati
 dalam hangat sajadah yang itu juga
 terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
 ketika di puncak tergelincir dia sempat
 lewat seperempat kuadran turun ke barat
 dan terdengar merdunya azan di pegunungan
 dan aku pun melayangkan pandangan
 mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
 ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
 dia berkata :

"Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan"

 dia menunjuk ke tanah ladang itu
 dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
 secarik tikar pandan
 kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
 airnya bening dan dingin mengalir beraturan
 tanpa kata dia berwudhu duluan
 aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
 ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
 hangat air terasa, bukan dingin kiranya
 demikianlah air pancuran
 bercampur dengan air mataku
 yang bercucuran.

 

Jeddah, 30 Januari 1988
Taufiq Ismail

Puisi Taufiq Ismail "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia"


Taufiq Ismail "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia"


Puisi Taufiq Ismail "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia"- Sebuah karya indah dari maestro puisi Indonesia, Taufiq Ismail, untuk mengungkapkan keprihatinannya akan situasi yang terjadi pada negeri tercintanya, Indonesia. 


MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA 
   
I
 
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga 
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa 
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya 
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia 
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia 
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda 
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, 
Whitefish Bay kampung asalnya 
Kagum dia pada revolusi Indonesia 
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya 
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama 
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya 
Dadaku busung jadi anak Indonesia 
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy 
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University 
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army 
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri 
Mengapa sering benar aku merunduk kini 
 
 
II 
 
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak 
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak 
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak, 
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza 
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia 
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata 
Dan kubenamkan topi baret di kepala 
Malu aku jadi orang Indonesia. 
 
 
III 
 
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu, 
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi 
berterang-terang curang susah dicari tandingan, 
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu 
dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek 
secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu, 
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan, 
senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan 
peuyeum dipotong birokrasi 
lebih separuh masuk kantung jas safari, 
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, 
anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden, 
menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, 
agar orangtua mereka bersenang hati, 
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum 
sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas 
penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan, 
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan 
sandiwara yang opininya bersilang tak habis 
dan tak utus dilarang-larang, 
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata 
supaya berdiri pusat belanja modal raksasa, 
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah, 
ciumlah harum aroma mereka punya jenazah, 
sekarang saja sementara mereka kalah, 
kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka 
oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat, 
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia 
dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, 
kabarnya dengan sepotong SK 
suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi, 
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, 
lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman, 
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, 
fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar, 
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat 
jadi pertunjukan teror penonton antarkota 
cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita 
tak pernah bersedia menerima skor pertandingan 
yang disetujui bersama, 
 

Di negeriku rupanya sudah diputuskan 
kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa, 
lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil 
karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta, 
sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja, 
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan 
dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, 
Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng, 
Nipah, Santa Cruz dan Irian, 
ada pula pembantahan terang-terangan 
yang merupakan dusta terang-terangan 
di bawah cahaya surya terang-terangan, 
dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai 
saksi terang-terangan, 
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, 
tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang 
menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi. 
 
 
IV 
 
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak 
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak 
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, 
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza 
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia 
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata 
Dan kubenamkan topi baret di kepala 
Malu aku jadi orang Indonesia. 
 
 
1998