Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 September 2018

Sejarah Sendok, Garpu, Dan Pisau


Bagi masyarakat modern, terutama yang tinggal di perkotaan akan lebih menyukai apabila makan menggunakan sendok, garpu, dan pisau. Sebelum peralatan makan tersebut, manusia pada masa lampau hanya menggunakan tangan untuk mengambil dan memasukan makanan ke mulutnya. Masing – masing peralatan makan tersebut memiliki sejarah yang berbeda dan mereka ditemukan tidak secara bersamaan.
 

Sendok


Sendok merupakan salah satu peralatan makan tertua. Dibandingkan peralatan makan yang lain, sendok lebih dibutuhkan karena diperlukan untuk meraup makanan.

Pada masa lampau, sendok kuno terbuat dengan memanfaatkan bahan – bahan alam seperti dari kerang atau batu yang dibentuk, dan pada awalnya sendok tidak memiliki pegangan.

Belum diketahui waktu yang pasti kapan sendok ditemukan. Manusia kuno saat itu menggunakan tulang binatang untuk dijadikan pegangan sendok. 

Bukti arkeologi lainnya menemukan fakta bahwa pada 1000 SM, bangsa Mesir kuno menggunakan sendok untuk tujuan agama. 

Sendok tersebut terbuat dari bahan seperti gading, kayu, dan batu tertulis, selain itu sendok tersebut juga dihiasi dengan hieroglif (tulisan Mesir kuno).

Sementara itu, pada masa Kekaisaran Yunani dan Romawi, sendok mulai terbuat dari perunngu dan perak. Tetapi sendok tersebut hanya digunakan oleh orang kaya.

Di Inggris, bukti yang berhasiil terdokumentasi sendok pertama adalah pada tahun 1259 M, ketika masa pemerintahan Raja Edward I. Sang Raja menyimpan sendok – sendoknya di lemari. 

Jadi sendok tidak hanya digunakan untuk makan, tetapi juga dalam upacara, hiasan dan untuk menunjukkan kekayaan dan kekuasaan. Misalnya, penobatan setiap raja Inggris selalu dilanjutkan dengan ritual di mana raja baru akan diurapi oleh sendok seremonial. 

Selama periode Tudor dan Stuart, sendok semakin memiliki peran penting. Terdapat kebiasaan pada periode tersebut untuk memberikan sendok sebagai hadiah pembaptisan. 

Awalnya satu set hadiah sendok ini terdiri dari 12 sendok tetapi kemudian ditambah menjadi satu sehingga berjumlah tiga belas untuk menghormati sosok Kristus. 

Praktek ini melahirkan tradisi sendok pembaptisan dan lazim dilakukan oleh semua kelas sosial masyarakat pada saat itu. Satu - satunya perbedaan adalah bahan pembuatan sendok. 

Biasanya untuk kelas atas, sendok mereka terbuat dari perak atau emas dan tembaga atau kuningan untuk kelas masyarakat lebih rendah.

Desain sendok berubah sepanjang periode Renaissance dan Baroque sebelum akhirnya ada kesepatan standarisasi sendok pada sekitar abad ke-18.
 

Garpu 


Diperkirakan, garpu meja paling awal dibuat di Mesir Kuno. Budaya Qijia (2400-1900 SM) yang merupakan bagian dari China juga diketahui telah menggunakan garpu.

Seribu tahun kemudian, popularitas garpu di dunia Barat menyebar melalui Jalan Sutra ke Venesia. Salah satu bukti tercatat paling awal dari garpu di Venesia adalah dari cerita yang berasal dari abad ke-11, yaitu ketika pernikahan putri Bizantium, Theodora Anna Doukaina dengan Domenico Selvo. Dalam pernikahan ini garpu emas dijadikan sebagai bagian dari mas kawin.

Popularitas garpu mulai berkembang selama abad ke-16 M karena jasa trend setter Catherine de Medici. Dia membantu mempopulerkan garpu (serta pasta, minyak zaitun, chianti dan pemisahan manis dan gurih) dengan tabel Perancis setelah menikah dengan Raja Henry II.
 

Pisau 


Sejak zaman prasejarah, pisau memiliki dualisme manfaat, baik sebagai senjata dan alat makan. Hal ini cukup logis karena manusia membutuhkan suatu alat untuk memotong makanan. Namun, bentuk pisau baru mulai dibentuk secara khusus agar dapat digunakan di meja ketika Dinasti Bourbon di Perancis.  

Demikian sekilas Sejarah Sendok, Garpu, Dan Pisau. semoga bermanfaat

Sabtu, 15 September 2018

Biografi Tjut Meutia Srikandi dari Aceh

http://www.fuznamubarak.ga/2016/12/biografi-tjut-meutia-srikandi-dari-aceh.html

Biografi Tjut Meutia 

Tjut Meutia adalah salah satu pahlawan nasional wanita yang beasal dari Aceh. Tjut Meutia lahir di Kereutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870 tepatnya 3 tahun sebelum perang Aceh berkecamuk. 

Tjut Meutia mempunyai kepribadian yang tangguh dan pemberani bahkan hingga titik darahh penggahbisan. 

Tjut Meutia mempunyai suami yang bernama Teuku Muhammad atau biasa disebut Teuku cik Tunong yang sama-sama berjuang melawan Belanda. Namun Teuku Muhammad ditangkap dan dihukum mati dengan cara ditembak oleh Belanda di tepi pantai Lhokseumawe pada bulan Maret 1905. 

Sebelum meninggal, Teuku Muhammad sempat berpesan kepada sahabatnya yaitu Pang Nagroe untuk menikahi istri nya Tjut Meutia. Tjut Meutia mempunyai seorang anak dari Teuku Muhammad yaitu Teuku Raja Sabi.Kemudian Tjut Meutia menikah dengan Pang Nangroe.

Setelah itu Tjut Meutia terus melanjutkan untuk perjuangan untuk melawan belanda. Namun pasukan mereka semakin tertian mundur.  Pada tanggal 26 September  1910, dalam suatu pertempuran melawan Korps Marechausee  Pang Nangroe tewas, dan Tjut Meutia berhasil selamat, dan kemudian Tjut Meutia bersama pejuang-pejuang lain yang masih selamat lari ke hutan untuk menyelamatkan diri. 

Banyak pasukan Tjut Meutia yang meyerah, namun Tjut Meutia mempunyai sikap yang keras dan pantang menyerah sehingga dia terus berjuang dan tidak pernah menyerah, dia bersemunyi di pedalaman rimba Pasai bersama anaknya Teuku Raja Sabil, yang saat itu masih berusia 11 tahun.

Biografi Tjut Meutia Srikandi dari Aceh


Pada tanggal 24 Oktober 1910, Belanda telah merencanakan untuk melakukan pengepungan dan akhirnya Tjut Meutia ditemukan. Walaupun dikepung oleh Belanda dengan senjata yang lengkap, namun Tjut Meutia pun tetap tidak menyerah begitu saja, Dengan sebilah Rencong yang ada ditangannya, dengan berani Tjut Meutia terus melakukan perlawanan. 

Namun, Tjut Meutia tumbang setelah terkena 3 buah tembakan menembus badannya. Dan akhirnya perlawanan Tjut Meutia terhenti, namun perjuangannya tetap dikenang hingga sekarang.

Tjut Meutia resmi mendapatkan gelar pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden : Keppres No. 107 tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964.

Semoga sekilas Biografi Tjut Meutia Srikandi dari Aceh ini, dapat menjadi tauldan bagi generasi bangsa ini.

Biografi Mohammad Hoesni Thamrin




http://www.fuznamubarak.ga/2018/09/biografi-mohammad-hoesni-thamrin.html

Mohammad Hoesni Thamrin lahir di Jakarta pada tanggal 16 Februari tahun 1894 di Jakarta dulu disebut Weltevreden, Batavia.   

Mohammad Hoesni Thamrin mempunyai 5 saudara laki-laki dan 1 saudara perempuan. Ayahnya bernama Thamrin bin Thabri. 

Mohammad Hoesni Thamrin sangat populer di Masyarakat Betawi, daerah kelahirannya. 

Mohammad Hoesni Thamrin merupakan anggota dewan rakyat Hindia atau Volksraad pertama yang berasal dari Betawi. 

Walaupun Mohammad Hoesni Thamrin merupakan suku Betawi dia mempunyai darah Belanda dari sang kakek, namun dia sangat cinta tehadap Betawi.

Pada tahun 1919, Mohammad Hoesni Thamrin  dipercayakan menjadi Dewan Kota Jakarta. 

Pada tahun 1927, Mohammad Hoesni Thamrin bekerja di perusahaan perkapalan Koniklijke Paketvaart-Maatschappij. Kemudian pada tahun 1935, Mohammad Hoesni Thamrin menjadi anggota Volksraad Dewan Rakyat untuk mewakili kelmpok Pribumi. 

Pada tahun 1939, tercipta sebuah mosi yang mempersoalkan keberadaan Indonesia; Indoesisch; dan Indonesier yang artinya nerujuk kepada Negara, Bahasa, dan Rakyat Indonesia. Dalam mosinya, Mohammad Hoesni Thamrin meminta untuk ketiga hal tersebut dipakai untuk menggantikan Netherlands Indie, Nederlands Indische dan Inlander. 

Biografi Mohammad Hoesni Thamrin

Mohammad Hoesni Thamrin sangat peduli dengan nasib rakyat Indonesia, beliau sering menentang berbagai kebijakan yang dianggap tidak menguntungkan rakyat Indonesia atau hanya mengguntungkan Belanda. 

Contohnya pada saat pembangunan perumahan Menteng yang lebih menjadi prioritas dibandingkan dengan pembangunan perkampungan kumuh. Kebijakan lainnya juga yang dianggap Mohammad Hoesni Thamrin tidak menguntungkan rakyat Indonesia adalah harga beli komoditas lebih rendah dibandingkan dengan hasil kebun milik Belanda. 

Yang lainnya juga  adalah anggaran perang yang lebih besar dibandingkan dengan anggaran pertanian. 

Mohammad Hoesni Thamrin pernah juga aktif dalam partai, yaitu Partai Indonesia Raya disingkat PARINDRA. Setelah bergabung, Mohammad Hoesni Thamrin dijadikan sebagai ketua setelah beberapa tahun bergabung. 

Mohammad Hoesni Thamrin juga merupakan salah satu orang yang terlibat dalam pencetusan Gaboengan Politiek Indonesia yang biasa disingkat GAPI pada bulan Mei 1939. Sebelum meninggal pada tanggal 11 Januari 1941, Mohammad Hoesni Thamrin dijadikan tahanan rumah karena dia dicurigai bekerja sama dengan Jepang. 

Lima hari kemudian, Mohammad Hoesni Thamrin meninggal dan dimakamkan di perkuburan Karet, Jakarta.

Demikian Sejarah singkat Biografi Mohammad Hoesni Thamrin Pejuang dari Betawi.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Sejarah Nama Indonesia


Sejarah Nama Indonesia
Peta Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia


Sejarah Nama Indonesia mungkin sedikit orang yang mengetahuinya. Sehingga anak bangsa sendiri jarang mengetahui tentang sejarah nama Indonesia. Artikel kali ini akan mencoba mengungkap sejarah ini, meskipun tidak lengkap, semoga dapat memberikan sedikit informasi.

Nama Indonesia Pada Masa Lampau

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan).

Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab lubban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax Sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun.

Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia".

Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago,l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).

Nama Indonesia pada Masa Penjajahan

Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie  (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.

Munculnya nama Nusantara

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.

Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). 
Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. 

Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda. Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh.  Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. 

Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. 

Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: "... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives
(Maladewa). 

Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian
Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan.
Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf "u" digantinya dengan huruf "o" agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:
"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".
Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. 

Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Orang Indonesia yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof. Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiër (orang Indonesia).

Menjadi Nama yang bermakna Politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan
Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya :
"Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."
Di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal
Indonesische Padvinderij (Natipij). 

Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Rapat Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia
Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.

Indonesia Resmi Menjadi Nama Negara

Dengan jatuhnya tanah air ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Republik Indonesia.

Demikian Sejarah Nama Indonesia, semoga menambah pengetahuan kita akan sejarah bangsa kita sendiri. Sehingga menambah rasa cinta dan Nasionalisme dalam hati kita terhadap INDONESIA. 


Terima kasih telah membaca Sejarah Nama Indonesia semoga bermanfaat .......